Tuesday, June 06, 2006

Pada Tahun 2004 setelah aku lulus dari SMA, aku bersenang hati, karena aku diperbolehkan masuk ke dalam seminari. Seminari adalah sebuah sekolah untuk menjadi seorang Romo. Romo ialah seseorang yang tidak berhak untuk memiliki pasangan hidup, tidak berhak untuk memiliki seorang isteri dan tidak berhak untuk memiliki harta yang berlebihan.
Begini deskripsinya :
sebelum aku lulus SMA aku pun sudah mempunyai angan - angan untuk menjadi seorang Romo, tetapi hal itu harus kandas karena aku gak bisa lulus wawancara. Akhirnya aku melanjutkah sekolahku ke pendidikan selanjutnya, yaitu SMA. Setelah aku lulus SMA pun angan- angan ku masih menggebu-gebu. Setelah lulus SMA akhirnya aku memberanikan diri untuk menjadi seorang Romo. Akhirnya aku pun berhasil untuk masuk ke seminari tersebut. Suasana di seminari pun sangat berbeda dengan suasana di rumah. Tetapi kehidupan ku di seminari dan di rumah pun sama saja. Disana isinya hanya berdoa, bermain bersama kakak kelas, belajar, dan jalan - jalan pun tak ketinggalan. Aku pun saat itu bersyukur karena aku diperbolehkan untuk memasuki seminari itu. Seminari yang saat itu aku masuki adalah Seminari Berthinianum ( Salatiga ). Dengan Romo Kepala pun aku sudah kenal, jadi masuk ke seminari tersebut pun atas dorongan doa dari Romo tersebut. Tetapi hal itu akhirnya kandas pula. Aku pun akhirnya dipulangkan oleh Romo Kepala. Gak apa-apa yang penting aku sudah mempunyai pengalaman masuk seminari selama 6 bulan. Hal itu sangat menggembirakan karena akhirnya aku pun bisa berkumpul kembali dengan keluargaku. Walaupun masih ada rasa sangat kecewa, tetapi itu bukan merupakan suatu kegagalan, melainkan hal itu adalah suatu keberhasilan dalam mencapai angan-angan. Banyak sekali pelajaran yang telah aku peroleh dari kegagalan tersebut. terutama dalam hal iman ku.
Setelah aku dipulangkan pun aku masih bersyukur, karena diperbolehkan kembali bertemu dengan Romo Kepala. Karena pada tahun 2006 Romo Kepala Seminari tersebut ditugaskan kembali ke Gereja yang dahulu pernah dihuninya ( Emangnya Penghuni Terakhir ), yaitu Gereja Atmodirono. Akupun bertemu kembali dengan Beliau, karena Beliau di Atmodirono menjadi seorang Romo Kepala Paroki.
itulah kehidupan aku selama aku berada di Seminari. Semoga itu dapat menjadi bahan pelajaran bagi teman-teman semuanya.
Akhirnya kisah ini sampai sini saja. Mungkin lain kali disambung lagi dengan sharring - sharring aku yang lain. Sekian dan terimakasih.
GBU.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home